JAYAPURA, AKUIAKU.COM — KEKAYAAN Budaya Papua terus membuka ruang bagi lahirnya Karya-karya Kreatif Baru. Salah satunya melalui Fashion Etnik yang dikembangkan Perancang Busana Papua, Agusta Bunai, Pemilik Labewa Fashion Papua.
Agusta melihat Noken dan berbagai bahan alam Papua, bukan hanya sebagai bagian dari Tradisi, tetapi sebagai sumber inspirasi yang dapat dikembangkan menjadi Produk Fashion bernilai Ekonomi Tinggi.
Sejak 2016, ia mulai serius mengembangkan Busana Etnik dengan memanfaatkan Serat Alam, Serat Kayu, Anggrek Kuning. Serta Teknik Rajut dan Anyaman yang terinspirasi dari Noken.
Menurut Agusta, minat terhadap Fashion Etnik Papua terus mengalami perkembangan. Busana hasil kreasinya tidak hanya digunakan dalam kegiatan Budaya, juga mulai diminati untuk acara resmi. Seperti Pernikahan hingga berbagai perayaan Nasional lainnya.
“Potensi Karya dari Kearifan Lokal seperti Anyaman Noken sangat tinggi. Sejak fokus dari tahun 2016, permintaan Busana Etnik terus meningkat,” jelas Agusta, saat ditemui dalam Event Imaji Papua di Jayapura, baru-baru ini.
Dalam kesempatan tersebut, Agusta membawa koleksi bertajuk “Noken Merajut Papua”. Sebanyak 11 Busana ditampilkan dengan menggabungkan unsur Budaya dari Wilayah Adat La Pago dan Me Pago.
Kehadiran Imaji Papua, kata dia, menjadi kesempatan penting bagi Pelaku Industri Kreatif Papua untuk menunjukkan Karya mereka. Selain sebagai Ruang Promosi, ajang tersebut juga menjadi tempat bagi Desainer Lokal untuk bertemu, berkolaborasi dan memperluas pengalaman.
Bagi Agusta, pengembangan Fashion Etnik juga memiliki misi yang lebih besar yakni menjaga. Agar budaya Papua tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia secara khusus menyoroti Noken yang telah mendapatkan Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya tak benda. Menurutnya, pengakuan tersebut harus dibarengi dengan upaya menjaga keberlangsungan Produksi Noken, terutama dengan melibatkan generasi muda.
“Noken harus selalu diproduksi. Generasi muda harus tetap beraktivitas menghasilkan Noken. Kalau tidak, status tersebut bisa ditinjau ulang,” katanya.
Untuk mendorong Regenerasi, Agusta tidak hanya berkarya melalui Fashion. Ia juga aktif memberikan pelatihan kepada generasi muda melalui Workshop, salah satunya program “Sa Pu Karya”.
Dalam pelatihan tersebut, anak-anak muda diperkenalkan dengan teknik merajut, pemanfaatan bahan alam, hingga bagaimana mengolah keterampilan tradisional menjadi Karya yang memiliki nilai jual.
Agusta juga tengah memimpikan pengembangan perkebunan khusus tanaman serat alam dan pewarna alami. Ia berharap keberadaan kebun tersebut nantinya, tidak hanya menjadi sumber bahan baku. Tetapi juga menjadi tempat belajar masyarakat, mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam secara berkelanjutan.
Upaya mengembangkan Fashion Etnik berbasis Budaya tersebut, perlahan membawa Karya Labewa Fashion Papua keluar dari Papua. Busana berbahan serat kayu dan menggunakan pewarna alami, telah mendapat perhatian dari Pasar Internasional dan digunakan dalam sejumlah ajang Kontes Kecantikan di Amerika Serikat, Thailand dan Filipina.
Bagi Agusta, respons tersebut menunjukkan bahwa Karya yang lahir dari Budaya Lokal Papua, memiliki peluang untuk bersaing di Tingkat Global.
Ia pun mengajak generasi muda Papua mengubah cara pandang terhadap masa depan. Menurutnya, menjadi Aparatur Sipil Negara bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
“Jangan hanya berpikir menjadi PNS. Anak-anak muda harus melihat potensi yang ada di sekitarnya. Alam dan Budaya Papua bisa diolah menjadi Karya, Usaha dan Sumber Penghasilan,” ujarnya.
Agusta berharap semakin banyak Anak Muda yang mau belajar membuat Noken, mengembangkan Fashion Etnik dan mengolah bahan alam Papua menjadi Produk Kreatif. Dengan begitu, Budaya tidak hanya dipertahankan sebagai Warisan Masa Lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari masa depan Ekonomi Papua. (Nungky).
AkuiAku Medianya Insan Berjiwa Seni