Rabu , Desember 2 2020
Home / Aktingku / SELAMAT HARI WAYANG NASIONAL. “Wayang Indonesia, Apa Kata Dunia”…….! Oleh : Eddie Karsito.

SELAMAT HARI WAYANG NASIONAL. “Wayang Indonesia, Apa Kata Dunia”…….! Oleh : Eddie Karsito.

Bekasi, AKUIAKU.Com — TIDAK banyak yang tahu bahwa 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Perayaan ini terbilang masih anyar karena baru ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 pada 17 Desember 2018 lalu.

Wayang merupakan Budaya Adiluhung Bangsa Indonesia. Tidak saja berfungsi sebagai media hiburan (tontonan), melainkan estetika (tatanan), serta sarana pembentukan karakter (tuntunan). Sarat dengan pendidikan moral; budi pekerti, sarana mengenali berbagai karakter; watak positif maupun negatif. Karena di dalam lakon wayang terkadung ribuan karakter; baik positif maupun negatif, yang dapat dijadikan sebagai ‘Kaca Benggala’ ; cermin kehidupan.

Wayang lebih melekat pada kebudayaan Jawa, dan Bali. Sebab pada awalnya wayang memang tumbuh pesat di pulau Jawa dan Bali. Namun sebenarnya wayang Indonesia banyak jenis dan variasinya.

Di Indonesia ditemukan lebih dari 100 varian wayang dengan berbagai alternatifnya. Tersebar di berbagai daerah. Selain Jawa dan Bali, ada Lombok, Kalimantan, Sumatera, dan wilayah lainnya. Wayang tersebut memiliki keunikan dan kekhasan sesuai budaya masyarakat setempat dengan berbagai kreasi dan bentuknya. Perkembangan tersebut semakin memperkaya khasanah kebudayaan nusantara; Indonesia.

Wayang paling populis adalah Wayang Purwa. Sering disebut Wayang Kulit karena bahannya dari kulit sapi. Repertoar ceritanya bersumber dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata.

Ada lagi Wayang Golek, tampilannya berbentuk boneka terbuat dari kayu. Wayang jenis ini sangat populer di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan sekitarnya. Wayang Golek banyak menampilkan cerita sejarah, dan budaya setempat.

Selanjutnya ada Wayang Klithik. Wayang ini terbuat dari kayu, namun tipikalnya menyerupai wayang kulit. Sama halnya wayang kulit, Wayang Klithik banyak berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun repertoar ceritanya berbeda, bersumber dari siklus cerita Panji dan Damarwulan.

Lalu Wayang Gedog mirip Wayang Purwa. Wayang ini basis ceritanya juga mengenai Panji dengan latar belakang raja-raja, seperti cerita pada zaman kerjaan Jenggala, Singasari maupun Kediri. Ada lagi Wayang Thengul (Bojonegoro), dan Wayang Timplong (Nganjuk). Sumber ceritanya sama; berlatarkan cerita Panji.

Kemudian ada Wayang Madya. Bentuknya perpaduan Wayang Gedog dan Wayang Purwa.
Selanjutnya ada Wayang Beber. Jika Wayang Gedog dan Wayang Purwa dibuat satu wayang satu karakter, maka Wayang Beber berupa lembaran-lembaran. Tiap lembaran biasanya memiliki satu adegan cerita. Bahan bakunya kulit.

Berikutnya Wayang Suluh. Bentuk dan karakternya lebih modern menyerupai kehidupan nyata. Cerita yang ditampilkan terkait sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah.

Ada lagi Wayang Wahyu. Tokoh-tokoh dalam wayang wahyu sebagian dibuat realistik; kekinian, dengan ornamen yang distilir mirip dengan sunggingan (tatahan) wayang kulit Purwa.

Wayang Wahyu merupakan hasil kolaborasi antara gereja dengan seniman yang memiliki tujuan dan fungsi utama sebagai pewartaan iman. Sumber cerita yang dilakonkan mengangkat kisah yang terdapat dalam Alkitab.

Wayang Wahyu diiringi gendhing gerejani dengan tata penyajian yang kreatif. Namun dalam suluk-nya (nyanyian yang dikidungkan dalang), tetap menampilkan gaya dan irama tradisional seperti wayang kulit Purwa. Alur cerita tetap mengikuti pakem (struktur baku) dari pertunjukan wayang kulit Purwa.

Lalu ada Wayang Potehi. Wayang ini merupakan salah satu jenis kesenian khas Tionghoa, berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini diperkirakan sudah berumur lebih dari 3.000 tahun.

Wayang Potehi masuk ke Indonesia (Nusantara) sekitar abad 16 sampai 19. Dibawa oleh perantau etnis Tionghoa. Melalui proses akulturasi, nilai-nilai budaya yang dibawa orang Tionghoa sejak berabad-abad lalu ini tumbuh bersama budaya lokal dan menjadi budaya Indonesia.

Wayang Potehi terbuat dari kain berbentuk boneka. Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Pola pergelarannya, sang dalang memasukkan tangannya ke dalam kain lalu memainkan layaknya wayang jenis lain.

Pada awalnya Wayang Potehi hanya memainkan kisah-kisah klasik Tiongkok, seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok. Dimainkan dengan bahasa dan dialek Hokkian. Seiring perkembangan zaman ceritanya banyak diadaptasi, serta dimainkan menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena itu para penduduk non-Tionghoa bisa menikmati ceritanya.

Tidak seperti lajimnya wayang di Indonesia menggunakan gamelan, Wayang Potehi menggunakan musik khas yang dibawanya. diantaranya; gembreng, kecer atau simbal, suling, gitar, rebab, tambur, terompet, dan alat musik lainnya.

Selanjutnya Wayang Wong (Wayang Orang). Dimainkan atau diperankan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Menampilkan para seniman panggung, menggunakan berbagai kostum sesuai karakter peran layaknya wayang kulit Purwa.

***

Keberadaan wayang di Indonesia menurut sejarah, bersamaan dengan masuknya budaya Hindu dan Budha ke Asia Tenggara. Hipotesis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa seni pertunjukan wayang kulit mayoritas mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata.

Catatan lain menjelaskan wayang sudah ada di nusantara dari masa sebelumnya. Kesenian wayang selanjutnya dijadikan sarana penyebaran budaya Hindu dan Budha melalui cerita Ramayana dan Mahabharata.

Kesenian wayang juga berkembang pada masa kerajaan Islam. Pada masa itu kesenian wayang sering digunakan sebagai sarana dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam. Penyebaran agama Islam, khususnya di tanah Jawa, dilakukan melalui media wayang yang diinisiasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga menyampaikan risalah dakwahnya diantaranya melalui karakter Punakawan; Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong, yang dikembangkan sedemikian rupa. Babak Punakawan dalam pakeliran wayang ini ternyata dinilai efektif membawa nafas Islam di tengah dominasi kebudayaan Hindu Budha. Melalui berbabagi pergelaran wayang, para wali secara bijak larut dan turut berpartisipasi menentukan alur sejarah bangsa. Mereka juga terlibat dalam peran-peran pembaharuan dan pencerdasan masyarakat.

Hal serupa juga dilakukan seorang biarawan Katolik dari konggregasi FIC, Bruder Timotheus L. Wigyosoebroto, dalam misinya menyebarkan agama Katolik. Ia mengembangkan Wayang Wahyu, sebagai sarana pengajaran Injil yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab.

***
Kecintaan masyarakat terhadap kesenian wayang melahirkan berbagai komunitas penggiat wayang. Di Indonesia misalnya ada organisasi pewayangan, SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia).

Ada ASEAN Puppetry Association (APA). Organisasi pewayangan ini beranggotakan para penggiat budaya dari negara anggota ASEAN, antara lain, Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapore, Thailand dan Vietnam.

Wayang Indonesia juga populer di beberapa negara, seperti di Perancis, Inggris, Austria, Yunani, Jepang, Australia, Amerika, Bolivia dan negara-negara lainnya. Para penggiat dan pecinta wayang dari negara ini, ada yang bergabung di organisasi pewayangan internasional, Union Internationale de la Marionnette (UNIMA). Tak kurang dari 90 negara termasuk Indonesia menjadi anggota UNIMA. Mereka secara intensif saling berkomunikasi dan bekerjasama mengembangkan kesenian wayang.

Selain lembaga non-Pemerintah (Non Governmnet Organization), berbagai upaya juga dilakukan Pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pemerintah telah berupaya melestarikan dan merawat warisan budaya yang ada di Indonesia, termasuk wayang.

Penetapan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional (HWN) oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo — melalui KEPPRES Nomor 30 tahun 2018, tertanggal, 18 Desember 2018, salah satunya menjadi kebijakan strategis Pemerintah bagi pelestarian dan pengembangan wayang Indonesia. Wayang memberi dampak positif bagi bangsa Indonesia di mata dunia. Citra, prestasi dan pencapaian luar biasa di bidang budaya.

Pengakuan masyarakat internasional ini dikukuhkan oleh Badan Dunia UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization), bahwa wayang Indonesia masuk ke dalam daftar “Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia” (Representative list of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Sebuah pengakuan internasional yang mampu meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia, serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap wayang Indonesia.

Jakarta, 7 November 2020

“Eddie Karsito” adalah Penggiat Seni Budaya, Penulis Buku, Wartawan. Juga Aktor Teater, Film dan Sinetron. Menulis di banyak media, khususnya terkait dengan Bidang Kebudayaan, Industri Musik, Perfilman dan Pertelevisian. Participants 7th General Assembly UNESCO, Paris, Intangible Cultural Heritage (2018).

About Aku

Check Also

Bams Produktif Membuat Lagu Berdua Di Rumah…….!

Jakarta, AKUIAKU.Com — MESKI eksistensi grup band tengah tenggelam, tidak membuat Bams, Vokalis band Samsons …

Tinggalkan Balasan