Saturday , September 21 2019
Home / Karyaku / Pameran Tunggal Seruni Bodjawati “Perempuan-Perempuan Menggugat”…!

Pameran Tunggal Seruni Bodjawati “Perempuan-Perempuan Menggugat”…!

Jakarta, AKUIAKU.Com — TERNYATA Seni Lukis juga menjadi catatan sejarah perjalanan perjuangan kaum perempuan. Hak itu dibuktikan oleh pelukis Seruni Bodjawati dalam pameran tunggalnya yang berlangsung mulai 21- 31 Agustus 2019 yang digelar di Galeri Cemara 6, Menteng Jakarta Pusat.

Karya rupa yang dihasilkan Seruni yang dipamerkan secara tunggal ini, menampilkan terdiri 29 Tokoh Sejarah Perempuan yang hidup di tahun 833 sampai tahun 2019. Yang dikategorikan ke dalam 9 jaman. Yakni pra kolonial, VOC, Hindia Belanda, Jepang ,Masa Perang Kemerdekaan, Liberal, Demokrasi terpimpin/orde lama, Orde Baru dan Reformasi. Kesemua tokoh dilukis Seruni dalam semangat menghidupkan yang terlupakan.

Karena itu lukisan Seruni Iebih menampilkan sosok dalam bentuk narasi dengan simbol dan latar belakang yang ditangkap oleh Seruni dalam studi yang dilakukan sendiri dan melalui dialog dengan kurator kontennya.

Yang paling menarik dari karya rupa Seruni Bodjawati adalah ia menjadi pencipta wajah Rainha Boki Raja. Ratu-Ternate yang hidup dj-awal kolonialisme Nusantara di mana Ternate dan Tidore sebagai pintu gerbang kolonial di Nusantara. Ratu yang sama sékali terlupakan. Ia mulai dihidupkan oleh lbu Paramita Abudrrachman, peneliti LIPI yang merujuk dokumen yang ada di Portugal. Lalu lbu Toeti Heraty melanjutkan dengan menerbitkan buku tentang Rainha Boki Raja dalam bentuk prosa lirik.

Penghidupan sosok ini menyadarkan tentang soal masa lalu yang belum selesai dipecahkan. Sosok ini seharusnya juga diepjkkan seperti Cut Nyak Dhien.

“Kami ingin memperkenalkan pada generasi Milenial, kalau banyak wanita Indonesia yang hebat yang menjadi pionir dalan perjalanan bangsa dari tahun 833 tahun. Jadi bukan hanya Kartini saja wanita Indonesia,” ujar Seruni Bodjawati saat ditemui di Galeri Cemara 6, Menteng Jakarta Pusat. Rabu (21/8)

Pelukis berusia 27 tahun meras prihatin, dari begitu banyak perempuan wanita hebat baru 14 orang yang dijadikan Pahlawan Nasional. Sementara Pahlawan laki-laki ada 165 orang lebih.

Dipilihnya 29 sosok perempuan Indonesia hebat, lebih karena masalah alokasi tempat pameran. “Masih banyak perempuan hebat yang bisa kami lukis dan ditampilkan. Tapi kalau baru 29, karena masalah tempat saja,” ujar Seruni.

Seruni mengungkapkan untuk melukis 29 Perempuan Hebat dibutuhkan waktu satu setengah tahun. “Dalam perjalanan melukis tentu banyak dinamika dan masukan dari para tokoh yang mengenal sosok yang tengah saya lukis,” jelas Seruni.

Karya Buku yang berjudul ”Perempuan-Perempuan Menggugat , Literasi Rupa Sejarah Perempuan lndonesia”ditulis Esthi Susanti melalui studi literatur dan dialog dengan orang yang paham tentang tokoh perempuan Indonesia. Yang tak terduga dari kerja intensif Esthi sejak Oktober 2017 hingga April 2019 dalam melakukan studi adalah begitu banyak temuan yang mengejutkan.

Temuan reflektif tersebut antara lain pertama adalah feminisme justru ada di tatanan lama Nusantara. Pengkritik yang menyatakan bahwa feminisme berasal dari barat dan bukan berasal dari budaya lokal telah melakukan kesalahan. Mereka bicara di atas struktur patriarki Eropa dan Timur Tengah yang beroperasi dalam sistem Indonesia modern. Temuan tatanan kuno yang bercorak matriarki ini berasal dari temuan sejarawan. Oxford ahli Diponegoro bernama Peter Carey. Temuan Peter dilanjutkan oleh Esthi yang menemukan ide yang sama. Hal ini bisa dilihat dari cerita Panji dan Sekartaji dan Jawa masa lalu tidak punya nama keluarga, artefak lingga yoni yang memberi keseimbangan feminitas dan maskulinitas.

Temuan kedua ibuisme yang bertransformasi mulai jaman KOWANI ke jaman Orde Baru yang kemudian diambil oleh jaman reformasi menjadi kunci adanya kemaiuan parsial pada isu perempuan. Perempuan kontemporer nampak telah mencapai kemajuan pesat namun sesamgguhnya kemajuan yang dicapai baru di tataran fungsional. Perempuan Indonesia beium menemukan jalan yang lazim untuk bisa melakukan transendensi untuk menjadi perempuan utuh yang merdeka. Kemajuan yang setengah hati yang dicapai perempuan ini menielaskan mengapa perempuan bisa menjadi agen dari nilai-nilai fundamentalisme yang sekarang seiak menanjak terus jumlahnya. Studi yang ada menunjukkan bahwa guru perempuan ternyata menjadi agen dari nilai-nilai konservatisme tersebut. Pendidikan untuk perempuan yang mempunyai lubang yang menggeroti potensinya untuk ménjadikan perempuan sebagai agen kemajuan dalam sistem demokrasi yang ada.
Karya ketiga yang bukanberupa bendawi adalah kolaborasi dengan begItu banyak orang KolaboraSI yang dimulai dari generasi senior ke generasi yunior dalam nilai kesetaraan, keadIlan dan martabat dari perupa dan penulis. Lalu kolaborasi berlanjut dengan ilmuwan aktivis Jurnal Perempuan dan lembaga seni budaya bernama Cemara Galeri 6 Museum dan Sea Junction. Semuanya berproses dalam kolaborasi yang kemudian mengajak tokoh kontemporer yang dilukis terlibat termasuk intelektual dan aktivis perempuan muda dilibatkan untuk memberi respon di acara pameran dan peluncuran. Setelah acara ini dialog akan dilanjutkan. Dialog ditujukan kepada generasi muda agar mereka mengenali sejarah perempuan yang selama ini dilupakan dalam penulisannya. Melalui pengenalan diri sebagai bangsa diharapkan mereka bisa membangun diri dan masa depan. (Buyil)

About Aku

Check Also

Kiprah Lengger” dan “Jaran Bodhag” Diakui Sebagai Kesenian Asli Kota Probolinggo……!

Jakarta, AKUIAKU.Com — PEMERINTAH Kota Probolinggo mengisbatkan kesenian “Jaran Bodhag” dan Tarian “Kiprah Lengger”. Sebagai …

Leave a Reply